Mari Berpuisi



Mari Berpuisi

Siapa yang suka dengan puisi dari pembaca sekalian? Tentu sudah tidak asing dengan karya sastra yang satu ini, kata-katanya yang indah, diiringi dengan analogi-analogi yang berkesan mendalam. Di Indonesia sendiri banyak para penulis yang mengekspresikan karya-karyanya dalam bentuk puisi. Chairil Anwar dan Afifah Afra adalah sebagian kecil dari penulis yang menggoreskan sejarah karya dengan menciptakan puisi-puisi yang indah.  
Terkadang bagi kalangan anak muda orang yang puitis sering di anggap sebagai sesuatu yang berlebihan, namun pembaca sekalian sebenarnya tidak demikian. Orang yang puitis itu adalah orang yang suka mengekspresikan rasa baik itu rasa senang ataupun emosi menjadi kata-kata yang bernilai seni. Boleh jadi pembaca di sini juga termasuk orang yang puitis.
Berkaitan dengan puisi yang sedang di bahas kali ini, perlu di ketahui bahwasannya jenis-jenis puisi di bagi menjadi dua yaitu, puisi lama dan puisi baru. Pada jenis puisi lama merupakan jenis karya yang masih menggunakan tata aturan yang berlaku, misalnya jumlah kata per baris, jumlah suku kata, ketepatan vokal serta sajak yang di gunakan. Contoh puisi lama seperti pantun, gurindam, karmina, talibun, mantra, dan syair.  Sedangkan untuk jenis puisi baru  merupakan jenis puisi yang tidak terikat oleh aturan-aturan, yang mana pada jika di bandingkan dengan jenis puisi lama puisi baru lebih bebas dalam penggunaan kata, sajak, bait maupun rima. Di bawah ini adalah salah satu contoh puisi lama berupa pantun.

Buah nangka buah delima                                                         
Di makan adik pagi dan siang
Hidup jangan di buat dilema
Biarkan jiwa bergembira riang

Contoh puisi baru

kuntum- Kuntum Bunga
Oleh:  Fuji Astuti

Secantik mawar yeng merekah
Seanggun lili yang tersipu malu
Sewangi melati yang suci penuh kesederhanaan
Seterang matahari yang bersinar di antara gelap berimbun
Seberani teratai yang teguh memilih hidup di atas air
Setulus kamboja yang menghibur kematian
Selembut kenanga yang menyisip mengantar jasad
Seabadi edelweis yang berdiri tegak di tepi jurang
Seriang krisan memancar warna kehidupan



Previous
Next Post »

1 komentar:

Click here for komentar
Unknown
admin
18 Desember 2016 pukul 21.54 ×

Bagus sekali kak tulisannya. Ditunggu karya-karyanya yang lain.

Congrats bro Unknown you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar